{"id":1490,"date":"2026-10-07T07:57:45","date_gmt":"2026-10-07T07:57:45","guid":{"rendered":"https:\/\/stipas.ac.id\/stipas1\/?p=1490"},"modified":"2026-10-07T08:10:52","modified_gmt":"2026-10-07T08:10:52","slug":"belajar-di-tengah-kabut-asap-catatan-seorang-pendidik","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/stipas.ac.id\/stipas1\/2026\/10\/07\/belajar-di-tengah-kabut-asap-catatan-seorang-pendidik\/","title":{"rendered":"Belajar di Tengah Kabut Asap: Catatan Seorang Pendidik"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pagi ini saya kembali melihat ke luar jendela. Genap sudah satu bulan lebih berlalu bahwa langit tampak berbeda. Tidak benar-benar gelap, tetapi juga tidak terang. Pandangan ke kejauhan menjadi samar. Udara terasa berat. Kabut asap perlahan menyelimuti lingkungan dan membuat pagi yang biasanya terasa segar menjadi sesuatu yang harus dilewati dengan hati-hati.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Saya menarik napas panjang. Ada perasaan yang sulit dijelaskan ketika melihat kondisi seperti ini. Di satu sisi, kehidupan harus tetap berjalan. Pekerjaan harus dilakukan, perkuliahan harus dilaksanakan, mahasiswa harus belajar, dan dosen harus tetap mengajar. Namun di sisi lain, alam seperti sedang memberikan sebuah peringatan bahwa ada sesuatu yang tidak beres.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di tengah kondisi seperti ini, saya kemudian bertanya kepada diri sendiri;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bagaimana pendidikan harus berjalan ketika udara yang kita hirup sendiri sudah tidak nyaman?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Lalu Pertanyaan itu terus mengikuti saya dalam perjalanan menuju kampus.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ketika sampai di kampus, saya melihat mahasiswa tetap datang. Ada yang menggunakan masker, ada yang berjalan dengan langkah seperti biasa, dan ada pula yang tampak lelah. Ruang kelas tetap dipenuhi aktivitas. Laptop dibuka, buku dikeluarkan, materi perkuliahan disiapkan, dan proses belajar tetap berlangsung.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"640\" height=\"426\" src=\"https:\/\/stipas.ac.id\/stipas1\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/asap-3.webp\" alt=\"\" class=\"wp-image-1493\" srcset=\"https:\/\/stipas.ac.id\/stipas1\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/asap-3.webp 640w, https:\/\/stipas.ac.id\/stipas1\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/asap-3-360x240.jpg 360w, https:\/\/stipas.ac.id\/stipas1\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/asap-3-300x200.jpg 300w\" sizes=\"auto, (max-width: 640px) 100vw, 640px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dari luar, semuanya terlihat normal. Tetapi apakah benar-benar normal?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Saya mulai berpikir bahwa pendidikan ternyata bukan hanya tentang apa yang terjadi di dalam ruang kelas. Pendidikan juga sangat dipengaruhi oleh apa yang terjadi di luar kelas.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ketika udara tidak sehat, konsentrasi dapat terganggu. Ketika tubuh merasa tidak nyaman, belajar menjadi lebih berat. Ketika seseorang merasa khawatir terhadap kesehatan dirinya atau keluarganya, pikirannya tentu tidak sepenuhnya berada pada materi perkuliahan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di sinilah saya mulai melihat pendidikan dari sudut pandang yang berbeda. Selama ini kita sering berbicara tentang kualitas pendidikan. Kita membicarakan kurikulum, kompetensi dosen, metode pembelajaran, teknologi, capaian pembelajaran, dan hasil belajar mahasiswa.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tetapi hari ini saya justru bertanya;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Apakah lingkungan tempat pendidikan berlangsung juga sudah cukup sehat untuk mendukung proses belajar?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pertanyaan itu mungkin terdengar sederhana. Namun semakin dipikirkan, semakin terasa penting.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Saya melihat mahasiswa duduk di dalam kelas dan mencoba mengikuti perkuliahan. Saya tidak tahu apa yang mereka rasakan. Mungkin ada yang merasa pusing. Mungkin ada yang mengalami gangguan pernapasan. Mungkin ada yang kurang tidur karena kondisi yang lainnya. Mungkin ada yang harus menempuh perjalanan cukup jauh dalam kondisi udara yang tidak nyaman.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Mungkin juga ada mahasiswa yang sebenarnya ingin belajar dengan baik, tetapi tubuhnya meminta untuk beristirahat. Lalu saya bertanya lagi kepada diri sendiri;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bukankah pendidikan seharusnya mampu memahami manusia sebelum menuntut manusia untuk belajar?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kalimat itu terus terngiang. Pendidikan tidak boleh hanya melihat mahasiswa sebagai angka kehadiran, nilai, tugas, dan ujian. Di balik setiap mahasiswa ada manusia. Ada tubuh yang bisa lelah. Ada pikiran yang bisa terganggu. Ada keluarga yang mungkin sedang menghadapi masalah. Dan ada lingkungan yang ikut menentukan kemampuan mereka untuk belajar.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kabut asap membuat semua itu menjadi lebih terlihat. Biasanya kita berbicara tentang lingkungan hidup dalam ruang kelas. Kita menjelaskan tentang pencemaran lingkungan, pencemaran udara, kerusakan hutan, perubahan iklim, kebakaran hutan dan lahan, serta pentingnya menjaga lingkungan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Namun sekarang lingkungan itu sendiri sedang masuk ke dalam ruang pendidikan. Kabut asap menjadi pengalaman nyata. Ia bukan lagi sekadar materi dalam buku. Ia dapat dirasakan ketika kita keluar rumah. Ia terlihat ketika kita memandang langit. Ia terasa ketika kita menarik napas. Ia bahkan dapat memengaruhi proses belajar mahasiswa.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pada titik ini saya mulai berpikir bahwa mungkin kabut asap juga dapat menjadi &#8220;Guru&#8221;.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bukan karena asap memberikan pelajaran secara langsung, tetapi karena keadaan ini memaksa kita untuk bertanya;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Apa yang menyebabkan kondisi seperti ini?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bagaimana hubungan manusia dengan hutan?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Apa akibat dari kerusakan lingkungan terhadap kehidupan manusia?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Siapa yang paling merasakan dampaknya?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Apa tanggung jawab pemerintah, masyarakat, dunia usaha, dan lembaga pendidikan?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dan yang penting Pendidikan seperti apa yang mampu membentuk manusia yang tidak hanya pintar menggunakan alam tetapi juga mampu menjaga alam?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pertanyaan-pertanyaan tersebut membuat saya menyadari bahwa kabut asap sebenarnya bukan hanya persoalan kesehatan. Ia juga merupakan persoalan sosial, ekologis, ekonomi, bahkan pendidikan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ketika mahasiswa tidak dapat belajar dengan nyaman karena udara yang tidak sehat, maka proses pendidikan juga ikut terdampak. Karena itu, ketika kita berbicara tentang pendidikan yang berkualitas, mungkin kita perlu memperluas cara pandang kita. Pendidikan yang berkualitas bukan hanya tentang dosen yang kompeten. Bukan hanya tentang kurikulum yang baik. Bukan hanya tentang fasilitas yang lengkap. Pendidikan yang berkualitas juga membutuhkan lingkungan yang memungkinkan manusia belajar dengan aman dan sehat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hari-hari seperti ini membuat saya semakin memahami bahwa pendidikan tidak selalu berlangsung dalam kondisi ideal. Tidak selalu ada ruang kelas yang nyaman. Tidak selalu ada udara yang bersih. Tidak selalu ada mahasiswa yang datang dengan kondisi terbaik. Tidak selalu ada situasi yang mendukung. Namun justru dalam kondisi seperti inilah pendidikan diuji.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Apakah pendidikan hanya mampu berjalan ketika semuanya baik-baik saja?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ataukah pendidikan mampu membantu manusia memahami persoalan ketika kehidupan sedang tidak baik-baik saja?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Saya memilih percaya pada yang kedua. Pendidikan harus mampu bertahan. Tetapi bertahan bukan berarti memaksakan diri untuk tetap berjalan seperti biasa. Bertahan berarti mampu beradaptasi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jika kondisi udara tidak sehat, pembelajaran mungkin perlu disesuaikan. Jika mahasiswa mengalami gangguan kesehatan, pendekatan pembelajaran perlu lebih manusiawi. Jika kondisi lingkungan memburuk, keselamatan mahasiswa dan dosen harus menjadi perhatian.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sebab pada akhirnya, pendidikan dibuat untuk manusia. Bukan manusia yang dibuat untuk memenuhi sistem pendidikan. Saya kemudian kembali memikirkan satu hal yang lebih mendasar.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Apa sebenarnya yang sedang kita ajarkan kepada mahasiswa di tengah kabut asap?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Apakah hanya materi yang tertulis dalam RPS?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Apakah hanya teori?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Apakah hanya tugas dan ujian?<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"640\" height=\"425\" src=\"https:\/\/stipas.ac.id\/stipas1\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/asap-2.webp\" alt=\"\" class=\"wp-image-1495\" srcset=\"https:\/\/stipas.ac.id\/stipas1\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/asap-2.webp 640w, https:\/\/stipas.ac.id\/stipas1\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/asap-2-300x199.jpg 300w, https:\/\/stipas.ac.id\/stipas1\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/asap-2-360x239.jpg 360w\" sizes=\"auto, (max-width: 640px) 100vw, 640px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Atau ada pelajaran yang jauh lebih penting yang sedang berlangsung di sekitar kita?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bahwa lingkungan memiliki batas. Bahwa keputusan manusia memiliki konsekuensi. Bahwa hutan bukan hanya sumber ekonomi. Bahwa udara bersih adalah bagian penting dari kehidupan. Bahwa pembangunan tidak boleh hanya berbicara tentang pertumbuhan, tetapi juga tentang keberlanjutan. Dan bahwa menjadi manusia terdidik berarti memiliki kemampuan untuk melihat hubungan antara tindakan pribadi dan kehidupan bersama.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jika demikian, mungkin kabut asap hari ini sedang mengajarkan kepada kita satu hal yaitu Pendidikan tidak cukup hanya membuat seseorang menjadi pintar. Pendidikan harus membuat seseorang mampu bertanggung jawab. Tanggung jawab terhadap dirinya. Tanggung jawab terhadap orang lain. Dan tanggung jawab terhadap lingkungan tempat ia hidup.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Saya tidak tahu kapan kabut asap ini benar-benar akan hilang. Mungkin beberapa hari lagi. Mungkin lebih lama. Tetapi saya berharap ketika langit kembali biru, kita tidak segera melupakan apa yang telah terjadi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sebab sering kali manusia memiliki ingatan yang pendek. Ketika asap hilang, kita kembali menjalani kehidupan seperti biasa. Kita kembali masuk kelas. Kita kembali bekerja. Kita kembali mengejar target. Kita kembali berbicara tentang berbagai persoalan lain.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kemudian ketika asap datang lagi, kita kembali bertanya:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Mengapa hal ini terjadi lagi?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Mungkin yang perlu kita ubah bukan hanya cara menghadapi asap ketika ia datang. Yang perlu kita ubah adalah cara kita memperlakukan lingkungan sebelum asap itu datang. Dan di sinilah pendidikan memiliki pekerjaan yang sangat besar.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pendidikan harus menanamkan kesadaran ekologis sejak dini. Pendidikan harus mengajarkan bahwa manusia bukan penguasa mutlak alam. Manusia adalah bagian dari alam.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ketika alam sakit, manusia ikut merasakan sakitnya. Ketika hutan terbakar, bukan hanya pohon yang kehilangan tempat hidup. Kita kehilangan udara. Kita kehilangan kenyamanan. Kita kehilangan kesempatan belajar dalam kondisi yang sehat. Dan mungkin, tanpa kita sadari, kita juga sedang mewariskan sebuah masalah kepada generasi berikutnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hari ini, ketika saya kembali menutup jendela, kabut masih terlihat di luar. Saya tidak tahu apakah tulisan kecil ini dapat mengubah keadaan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Mungkin tidak.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Namun saya percaya bahwa pendidikan selalu dimulai dari sebuah pertanyaan. Dan pertanyaan saya hari ini sederhana;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jika anak-anak dan mahasiswa kita harus belajar di tengah udara yang tidak sehat, sebenarnya pendidikan seperti apa yang sedang kita wariskan kepada mereka?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Mungkin sudah saatnya kita tidak hanya bertanya bagaimana membuat mahasiswa tetap belajar ketika kabut asap datang.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kita juga harus bertanya:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Apa yang harus kita ajarkan agar suatu hari nanti mereka mampu menciptakan kehidupan di mana kabut asap tidak lagi menjadi catatan harian?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sebab pendidikan bukan hanya tentang mempersiapkan manusia untuk menghadapi masa depan. &nbsp;Pendidikan juga tentang memastikan bahwa masa depan masih layak untuk dihuni.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Salam Lestari. (<strong><em>Edy Jumrio<\/em><\/strong>)<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pagi ini saya kembali melihat ke luar jendela. Genap sudah satu bulan lebih berlalu bahwa langit tampak berbeda. Tidak benar-benar gelap, tetapi juga tidak terang. Pandangan ke kejauhan menjadi samar. Udara terasa berat. Kabut asap perlahan menyelimuti lingkungan dan membuat pagi yang biasanya terasa segar menjadi sesuatu yang harus dilewati dengan hati-hati. Saya menarik napas panjang. Ada perasaan yang sulit dijelaskan ketika melihat kondisi seperti ini. Di satu sisi, kehidupan harus tetap berjalan. Pekerjaan harus dilakukan, perkuliahan harus dilaksanakan, mahasiswa harus belajar, dan dosen harus tetap mengajar. Namun di sisi lain, alam seperti sedang memberikan sebuah peringatan bahwa ada sesuatu <a href=\"https:\/\/stipas.ac.id\/stipas1\/2026\/10\/07\/belajar-di-tengah-kabut-asap-catatan-seorang-pendidik\/\" class=\"read-more\">Read More &#8230;<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1491,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[],"class_list":["post-1490","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/stipas.ac.id\/stipas1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1490","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/stipas.ac.id\/stipas1\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/stipas.ac.id\/stipas1\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/stipas.ac.id\/stipas1\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/stipas.ac.id\/stipas1\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1490"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/stipas.ac.id\/stipas1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1490\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1498,"href":"https:\/\/stipas.ac.id\/stipas1\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1490\/revisions\/1498"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/stipas.ac.id\/stipas1\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1491"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/stipas.ac.id\/stipas1\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1490"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/stipas.ac.id\/stipas1\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1490"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/stipas.ac.id\/stipas1\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1490"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}